Pesona Pulau Pastufiri

Keindahan Pulau Pastufiri, Kabupaten Halmahera Barat

JAILOLO - Suara nyaring mesin perahu katinting pagi itu, memecah sunyi Desa Tauro, Kecamatan Jailolo Tengah, Kabupaten Halmahera Barat. Perahu berbahan fiber tersebut melaju kencang, membelah laut, menuju sebuah pulau mungil tepat di depan perkampungan. Pulau Pasitufiri, begitulah masyarakat setempat menyebutnya. Jarak antara pulau dan wilayah pesisir Desa Tauro, sulit diperkirakan. Sebab waktu tempuh tergantung dari kecepatan perahu.

Pagi itu, Sabtu (23/3/16), saya berserta rombongan meminjam perahu katinting milik warga setempat. Kami tidak dikenakan biaya sewa perahu. Cukup dengan bensin sebanyak 2 liter. Kebetulan, saya bersama salah seorang sahabat, Risal Samsi, memiliki ikatan keluarga dengan pemilik perahu tersebut.
Saat itu, perjalanan yang kami tempuh kurang lebih 20 menit. Dari kejauhan, pulau dalam bahasa lokal yang akrab disebut nyare (karang timbul) seakan menjelaskan sebuah keunikan yang dimilikinya.

Dugaan itu tak meleset. Sebab setibanya kami di sana, suguhan panorama di sekitar seakan mengobati rasa penasaran itu. Selain kejernian air laut, hamparan kerikil putih seolah terapung di atas permukaan laut. Terlihat, beberapa pepohonan kecil serta sebuah pondok beton yang dibangun di atas pulau, menambah keunikan dari pulau tersebut.

Radiah (31) salah seorang warga Desa Tauro, kepada saya menuturkan, awalnya pulau tersebut sempat dinamai Pasiboki oleh  Sultan Ternate, H. Mudaffar Sjah (alm). Namun secara umum oleh masyarakat setempat lebih dikenal dengan sebutan Pulau Pasitufiri.
Radiah mengatakan, pulau tersebut seringkali dimanfaatkan oleh nelayan setempat untuk beristirahat. "Kalau mereka pulang melaut, seringkali mereka memanfaatkan pulau itu untuk beristirahat," jelasnya.

Selain itu, kata Radiah, tidak hanya nelayan. Terkadang, masyarakat dari berbagai tempat, juga memanfaatkan untuk berwisata. Ia menuturkan, sewaktu pabrik PT. Barito di Sidangoli, Halmahera Barat masih beroperasi, para karyawan kerap berkunjung ke Pasitufiri. "Mereka datang berombongan, sekaligus membawa bekal," katanya.

MISTERI DIBALIK KEINDAHAN

Keunikan lain yang tersimpan di Pulau Pasitufiri yakni, adanya jere (kuburan tua yang disakralkan) di beberapa lokasi. Selain itu, dasar dari pulau tersebut menyerupai payung. Sehingga, ada sebuah pantangan yang harus dituruti oleh peloncong. Jika tidak, gempa bumi, angin kencang disertai ombak besar bakal menghantam wilayah pesisir Desa Tauro. Walaupun saya belum menyaksikan langsung, namun begitulah kepercayaan yang berkembang di masyarakat setempat.

Alfaris (20) jurumudi katinting yang membawa kami ke pulau tersebut menuturkan, hal tersebut sudah pernah terjadi. "Hal seperti itu sudah pernah terjadi. Makanya kami sering mengingatkan mereka yang mau ke pulau, untuk tidak melanggar pantangan," katanya.
Adapun hal - hal yang menjadi pantangan, yaitu dilarang berbuat keributan, berzina, atau bakar - bakar ikan di beberapa lokasi yang terdapat jere.

Tidak hanya itu, lanjut Alfaris, keunikan lain adalah ketika terjadi pasang surut. "Kalau pasang, pulaunya tidak tertelan air dan pada saat surut, pertepian pulau mengering dan seolah-olah membesar," akunya.

Maluku Utara tidak hanya menyimpan sejuta keindahan, tetapi juga cerita misteri. Salah satunya, Pulau Pasitufiri. Sebagai hikmahnya, kita harus menjaga kelestarian alam. Manusia harus hidup selaras dengan alam. (*)

Ditulis oleh : Nurkholis Lamaau
Powered by Blogger.