Perempuan dan kerelawanan, dibalik tirai 'Kedai Baca Pustaka'


TIDORE -- Kerelawanan, suatu sikap yang jarang kita temui di khlayak modernitas kehidupan yang sangat syarat akan kompetisi ekonomi seperti sekarang ini. Kerelawanan hanya dimiliki oleh sebagian orang yang memiliki hasrat dan naluri dari hati nurani mereka yang rela melakukan sesuatu untuk sebuah kepentingan tanpa pamrih. Di hari Relawan sedunia 5 Desember ini, memberikan kita sedikit refleksi akan pentingnya sebuah keikhlasan dalam melakukan sesuatu demi kebaikan. Hal inilah yang melekat dalam sanubari para relawan (Volunteer) dimanapun mereka berada.

Juniarti, dan panggilan nurani

Di sebuah pulau kecil bernama Tidore, dampak globalisasi yang menciptakan masyarakat yang apatis terhadap nasib masa depan daerah, individualistis, introvert dan juga lemahnya hasrat keingintahuan terhadap pengetahuan cenderung melonjak diakibatkan tekanan lingkungan lokal (adat) dan spritual (agama) dalam membentuk karakter masyarakat yang seolah terlihat canggung hari ini. Dan hal ini terlihat di Tidore. Pergeseran fungsi generasi muda sebagai perubah zaman telah beralih fungsi menjadi konsumerisme pembangunan hingga terlihat sebagai subjek yang cuma berharap pada peran pemerintah dalam mengembangkan sumber dayanya.

Hal inilah yang kemudian menjadikan perempuan asal Soa Sio (Tidore) Juniarti Ali yang sering disapa 'Oki' ini tergerak hatinya dalam melihat rendahnya minat generasi muda dalam persoalan literasi, khususnya di bidang minat baca. Ia sangat berharap dapat menggiring generasi muda Tidore keluar dari ruang-ruang isolir sosial lewat perjuangannya membangkitkan semangat minat baca di tengah tekanan lingkungan lokal saat ini. Gadis lulusan S1 Psikologi Universitas Indonesia Timur (UIT) Makassar ini akhirnya memutuskan untuk menghibahkan waktunya, guna berusaha mengubah paradigma masyarakat Tidore khususnya di kampung halamannya Soa Sio soal metode berpendidikan. Ia yakin bahwa salah satu kunci untuk merubah masa depan peradaban adalah dimulai dengan 'Membaca' 

Lewat konsep dan keyakinannya, ia memulai perjuangannya dalam usahanya menanamkan budaya minat baca di Tidore. Meski terlahir dan besar dengan lingkungan yang kental akan aturan adat dan agama, hal ini tak menyurutkan niat Oki tuk mengenalkan dunia pengetahuan baru dari buku-buku yang ia kumpulkan selama kuliah di Makassar. 

Rela menghibahkan rumah demi minat baca masyarakat

Tak seperti mahasiswa lainnya yang tak lagi menggunakan buku-bukunya selama kuliah, sebaliknya Oki menjadikan buku-buku koleksinya sebagai aset dan modal yang dapat ia gunakan kelak guna membangun perpustakaan masyarakat sebagaimana mimpinya. Usai menamatkan pendidikan S2 nya di Universitas Hasanuddin Makassar, oki memilih pulang ke kampung halamannya untuk memantapkan hatinya membangun impian itu.

Lewat tekadnya, ia mencoba mennjadikan rumahnya sebagai basis tempat dimana ia dapat menyajikan koleksi buku miliknya pada para anak-anak di lingkungannya yang memiliki semangat dalam minat baca. Perjuangannya, berbuah hasil. semakin hari, banyak dari anak-anak di lingkungannya menaruh minat baca dan antusias terhadap keberadaan perpustakaan umumnya yang ia bangun di rumahnya. Dengan keberhasilan inilah ia pun memantapkan hatinya untuk harus mengembangkan rumah baca yang ia rintis itu.

Tak ada pencapaian besar yang tak dibuat dari pengorbanan yang besar, demikian ungkapan pepatah. Oki yang telah berhasil memulai langkah awal dengan besar hati merelakannya rumahnya untuk dapat ia jadikan sebagai basis rumah baca yang telah ia rencanakan. Mendapat dukungan dari keluarga dan kerabat di lingkungannya, tentu adalah hal yang spesial dalam perjuangannya mewujudkan impiannya, dan hal itu yang ia dapatkan. 

Dukungan masyarakat dan teror rendahnya minat baca di Maluku Utara  

Pada tanggal 19 November 2016, Rumah baca yang ia bangun akhirnya diresmikan. Rumah baca itu ia namakan Kedai Baca Pustaka. Ada suka cita yang dirasakan selama acara itu berlangsung. Terutama pada masyarakat yang telah bersimpati atas perjuangannya  "Para masyarakat sangat antusias. Kami mendapatkan 500 buah buku dari hasil sumbangan masyarakat yang mendukung perjuangan kami dalam membangun rumah baca" katanya. Oki juga menambahkan bahwa "dukungan penuh dan empati masyarakat terhadap gerakan minat baca tentu merupakan suatu fenomena yang tak biasa bagi kami, terlebih dalam kurun waktu secepat ini, spesialnya hal itu di terjadi di kampung halaman sendiri, Tidore" tutur Oki sumringah.

Melihat fenomena ini, tentu wajar. Sebab Pusat Penelitian dan pengembangan (Puslitbang) Departemen Pendidikan Nasional baru-baru ini menyatakan Provinsi Maluku Utara sangat terbawah dalam angka minat baca di Indonesia. Melihat dukungan masyarakat terhadap perjuangan ini, seolah memberi angin segar bagi Oki dan kawan-kawan relawannya bahwasanya ternyata masyarakat Tidore masih sadar akan pentingnya minat baca, dan ini modal besar bagi mereka kedepannya.

Pagi hingga malam, tanpa lelah

Kedai Baca Poestaka yang dibangun Oki dibuka pada pkl.10.00 pagi hingga pkl.11.00 malam. Waktu yang panjang bagi sebuah rumah yang menyediakan ruang pendidikan gratis bagi mereka yang ingin belajar di dalamnya. Anak-anak yang antusias kebanyakan dari kelompok usia muda. Mereka antara lain masih bersekolah dasar (SD) dan menengah (SMP. Mereka tak hanya menaruh minat pada membaca buku, melainkan kesukaan mereka terhadap seni.

Lihat kadang mereka menunjukkan kelihaian mereka dalam seni menggambar dan mewarnai. "Melihat mereka cukup senang dengan dunia seni dan keliterasian, Muncul hasrat kami untuk membuka kelas menulis, kesenian dan Telling bagi mereka" ungkap Oki. Dia juga menambahkan bahwa "Kami juga menantang generasi muda di Kota Tidore untuk menyatukan persepsi dan membangun barisan gerakan visioner melawan kebodohan lewat pejuangan buku. Bila perlu membentuk paradigma berfikir yang tersruktur lewat buku.

Kehidupan sosial masyarakat Tidore sudah berkembang pesat daripada perkembangan kotanya. Tentu persoalan Sumber daya manusia menjadi barometer dalam menentukan kemajuan Tidore kedepannya. Oki optimis, dengan hadirnya rumah baca yang ia dirikan bersama para relawannya, setidaknya dapat membantu pemerintah dalam memperbaiki mood pendidikan dan aklerasi pengembangan sumber daya manusia soal menjamin bagaiamana masa depan Tidore kedepannya.


Juniarti : "Tak perlu orang lain bila kita bisa"

Saat ditanya soal apa langkah selanjutnya guna menarik perhatian masyarakat khususnya generasi muda tuk turut dalam aktifitas minat baca, Oki justru memiliki persiapannya sendiri. "Beberapa event kan kami selenggarakan, terlebih pada bagaimana kami mendorong semangat membaca, kadang kami mengisi acara musikalisasi daerah Tidore, pula penampilan sastra puisi yang kami harap dapat menghibur semangat mereka di sini.". ungkap Oki.

"Kenapa kita selalu berharap orang luar untuk membuka mata kita terhadap penitngnya minat baca toh kita memiliki anak-anak muda yang jauh lebih berkompeten di bidang itu, untuk membangun Tidore tidak bisa hanya dengan duduk dan mengeluhkan kekurangan-kekurangan dan absurnya pembangunan". Tegas Oki. "Namun, semoga semangat kami bisa membawa formula baru yang dapat kita bangun bersama untuk Tidore", harap Oki.

Kerelawanan bukan soal gender

Perjuangan Juniarti Ali (Oki) menunjukkan bahwa kerelawanan tak harus soal gender. Meskipun ia perempuan yang taat terhadap adat dan tradisi luhur daerahnya. Ia masih mampu menunjukkan bahwa perempuan juga sebagai tonggak perubahan zaman. Kerelawanannya membuka mata masyarakat adat Tidore tentang stigma berpendidikan yang perlu digeser, bahwasanya 'berpendidikan tak harus di sekolah, melainkan di mana saja'. Hal inilah yang membuat ia terpanggil dan menghibahkan diri demi nasib masyarakatnya. Tak butuh pujian, sebab ia tahu bahwa seorang relawan tak pantas menerima hal itu.

Menjadi panutan di tengah masyarakat, pada akhirnya menggerakkan hati mereka yang kian hari mulai banyak menawarkan diri menjadi relawan bagi perjuangannya. Meski tak mendapatkan sebuah kepantasan, faktanya ia adalah salah satu perempuan yang mampu membangun taman baca masyarakat bagi rakyatnya sendiri, dan menjadi agen perubahan yang tak lahir dari tangan kosong. Bukan soal kepada siapa dan pihak mana ia berjuang, melainkan demi masa depan negerinya, dan generasi Maluku Utara yang lebih baik. (*)

PENULIS : Fatir M.Natsir
(Wawancara eklusif bersama Juniarti Ali - Penggagas Kedai Baca Poestaka TIDORE)
Powered by Blogger.