Menelusuri Jejak Maluku Di Sulawesi Selatan

Suasana sore di samping Masjid Tua 'Anshar' Kelurahan Kampung Maloku, perkampungan tua etnis Maluku di abad 15 di Kota Makassar yang termakan zaman | Foto : Fatir MN

Sejak kejatuhan Malaka oleh Portugis pada tahun 1511 M, para pedagang dunia memalingkan tujuannya ke Bandar Makassar. Tak butuh setahun, Makassar tercipta menjadi kota dagang dunia mengganti peran Malaka di Asia Tenggara. Makassar sendiri adalah bahasa Melayu yang ditujukan kepada etnis pribumi yang mendiami pesisir Sulawesi Selatan. Diambil dari dialek mereka yakni “Mangkasara” yang berarti “Mereka yang bersifat terbuka”. Kadang disebut sebagai Suku Pesisir Sulawesi Selatan.

Para sejarawan mengemukakan bahwa dahulu pesisir barat Tallo terdapat daratan yang ditumbuhi pandan yang menjorok ke laut hingga membentuk sebuah tanjung. Pribumi mengenalnya dengan nama Tanjung Pandan (Juppandan) hingga menjadi nama lokal dari perkampungan di daerah ini jauh sebelum nama Makassar tertulis dalam sejarah. Sebelum kerajaan Tallo berdiri di akhir abad ke-15, Raja Gowa ke-10 Tunipalangga di tahun 1545 M telah membangun benteng kota untuk pertama kalinya yang dinamakan Benteng Ujung Pandang yang berarti benteng di ujung tanjung pandan, sayang tanjung ini kini tak lagi ada, permukaannya rendah menjadikan kawasan kuno ini menjadi sarang reklamasi modern kini. Selain itu juga, benteng Ujung Pandang yang termahsyur ini telah rusak dan dipugari serta telah berubah nama menjadi Fort Rotterdam pasca kejatuhan Makassar oleh Laksamana Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) Belanda, Cornelis Speelman di tahun 1667.

Kampung Maloku

Perang Makassar 1660-1666 menyisakkan kehancuran infrastruktur fisik dan sumber daya di kota ini, Laksamana Speelman sadar akan hal ini hingga memilih menata kembali kota ini sebelum dirinya meninggalkan tugas yang telah selesai ia emban. Pendataan dan perbaikan kerugian kota dan tiap penduduknya, serta perkampungan multi etnis di kota yang telah mati ini kembali dibangkitkan. Keberhasilan Speelman dalam menjamin nasib masa depan kota ini terbukti. Edward Lamberthus Poelinggomang dalam bukunya ‘Makassar abad XIX ; 'Studi tentang kebijakan tentang perdagangan maritim’ menjelaskan bahwa pada tahun 1852 (Pasca Speelman) terjadi peningkatan jumlah penduduk dari 24.000 jiwa menjadi 33.512 Jiwa di tahun 1847. Beberapa perkampungan multi etnis lama yang telah luluh lantah kembali berdiri dan beraktifitas kembali, seperti perkampungan Cina (China Town), perkampungan Buton (kampung pasar Butung), perkampungan Bima (Etnis Bima) dan perkampungan Maluku (Etnis Maluku).

Vlaardingen dan Maradekaya

Sayang masyarakat Maluku yang terdata dan dijelaskan oleh Edward dalam bukunya ternyata bukanlah perkampungan Maluku tua yang dimaksudkan dalam sejarah. Penguasa Gowa ke-38 Karaeng I Kumala Andi Idjo lewat wawancaranya mengungkapkan perkampungan Maluku yang dimaksud adalah tempat yang dihibahkan oleh Sultan Alauddin bagi para masyarakat etnis Maluku baik ulama maupun pedagang yang telah berada di sana sejak sebelum beliau naik takhta pada tahun 1593 M. Menurut beliau, daerah itu terletak tak jauh dari Fort Rotterdam. 

Edward agak keliru sebab yang maksud ternyata adalah etnis kristen Maluku yang bermukim di perkampungan Maradekaya (Kini di sekitar Jl.Gunung Nona, sekitar jl.Veteran Utara). Padahal wilayah Maradekaya merupakan base camp etnis Maluku kristen adalah berstatus sebagai Burger, (kaum sipil) dan Militer (KNIL) yang bekerja di bawah pemerintah kolonial Belanda. Daerah kota pesisir pantai yang ditata Speelman menjadi kini menjadi pemukiman umu yang terdaftar menjadi Vlaardingen. Sedang pusat pemerintahannya berpusat di Fort Rotterdam. Perkampungan Multi etnis seperti kampung Cina, Melayu, Bima, Buton dan Maluku masuk dalam kawasan Vlaardingen. Menariknya, Kampung Maluku-lah yang paling tertua di antaranya. 

Usai masa perdamaian pasca Perang Makassar pun, sejarah mencatat Kaicil Kalamata (Pangeran Ternate) dan istrinya Daeng Nija (Putri Karaeng Tallo) beserta 150 pasukannya turut mendapat hak tinggal di Vlaardingen (L.Y.Andaya, Warisan Arung Palakka, hal.233). Kini, kampung yang mayoritasnya beragama Muslim itu telah terdaftar sebagai Kelurahan Kampung Maloku, dibawah kecamatan Ujung Pandang, pemerintah daerah Kota Makassar. Mendengar nama kampung Maloku, tentu membuat kira tertarik akan sisa-sisa peninggalan kota tua ini. Salah satunya adalah geneologi (garis keturunan) masyarakat Maluku maupun arfefak peninggalan kuno masyarakatnya di kampung ini.

Mata Rantai yang Putus

Tak sesuai dengan namanya, Kampung Maloku kini tak seperti dulu. Daerah ini tak lagi dimukim oleh masyarakat etnis Maluku. Hal ini diakibatkan gelombang masyarakat pedagang yang telah hadir menduduki kampung ini dengan pembangunan rumah toko (Ruko)-nya. Masyarakat arab, cina dan Melayu telah menjadi masyarakat homogen di kelurahan ini. Tak ada lagi sisa etnis Maluku yang tersisa kecuali satu-satunya wanita bernama Rasma. Putri dari pasangan Abu Tobo dan Juliana Daeng Minne. Ia adalah satu-satunya masyarakat yang masih bergeneologi etnis Maluku (Ternate). Selain itu masih merupakan bagian dari keturunan Kesultanan Ternate yang didapatnya dari neneknya (Daeng Jibo) dan ibunya (Juliana Daeng Minne). 

Rasma sendiri tak terlalu menyoalkan dirinya yang berdarah biru dari internal kesultanan Ternate. Baginya, hal itu hanya soal sejarah keluarganya dan kampungnya yang telah punah dimakan waktu. Rasma sendiri masih kesulitan mencari alur klan-nya di Kesultanan Ternate karena terkendala biaya transportasi untuk pulang melihat keluarga dan tanah nenek moyangnya. Namun demikian Rasma-lah satu-satunya keturunan murni tersisa yang ada perkampungan ini.

Hidup dalam kesederhanaan dan rasa hormat yang pantas

Ibu Rasma dan sekeluarga tak seperti halnya keluarga bangsawan lainnya yang hidup dalam berkecukupan. Namun demikian, Rasma tetap dihormati bagi masyarakat setempat karena dirinya yang masih memiliki ikatan darah dengan penguasa Maluku yang pernah bermukim dan wafat di sini. Meski demikian, Rasma dan keluarga harus tetap berjuang hidup mencukupi kebutuhan hidupnya. “Kedua anak saya saja sekolah dari uang hasil jualan pisang goreng, sedang ayahnya menjadi tukang bakar ikan di beberapa rumah makan, namun alhamdulillah kami masih bersyukur untuk dapat hidup saat ini, meski di kediaman kami yang kecil lagi sederhana ini” ujar Rasma. 

Nenek Rasma (Daeng Jibo) adalah satu-satunya nama orang tua yang dapat Rasma ingat dari garis keluarga kebangsawanannya Ternate-nya. Sampai hari ini Rasma masih menjalankan amanat keluarga dari garis neneknya (Ternate) untuk menjaga tradisi upacara pemeliharaan benda pusaka peninggalan moyang mereka beserta makam keluarganya. “Ketika pasca 10 hari di bulan Muharram, kami mengadakan tahlilan untuk moyang kami, membersihkan pedang dan salawaku moyang kami, lalu melakukan ziarah dan membersihkan makamnya yang terletak di belakang Masjid Anshar Kampung Maloku”. “Banyak kerabat dari pulau sebelah (orang lokal sulawesi Selatan) datang kesini untuk menggelar tradisi ini bersama kami, juga menyumbangkan rizkinya bagi kami, mungkin keluarga mereka adalah kerabat moyang kami di masa lalu atau semasa berjuang entahlah” ujar Rasma.

Karaeng Maloku

Memiliki peninggalan persenjataan khas kerajaan Maluku, tentu adalah bagian dari seorang elit Militer di zamannya, Sayang, Rasma menutupi identitas dan nama asli moyangnya. Rasma mengatakan bahwa masyarakat sudah terlanjur menjuluki moyangnya Karaeng Maloku. Mantan Imam tua Masjid Anshar Kampung Maloku Muis Daeng Ngilo yang telah pensiun karena sakit pada tahun 2014 pun berbagi cerita soal sejarah moyang mereka dan kampung ini, “Itu adalah kisah yang cukup tua dan sulit untuk diingat. Namun, kakek kami pernah menceritakan soal karaeng itu. “Ia adalah seorang panglima perang dari Ternate, saudara dari seorang raja Ternate, ia melarikan diri ke Makassar dan membantu kerajaan Gowa dalam perang Makassar 1660-1666. Seusai perang berakhir ia menghabiskan waktunya sebagai penyiar Islam di sini. Ia dan istrinya wafat dan dimakamkan tepat di belakang Masjid Ansar Maloku, anda bisa melihatnya disana. Sayang, pusara makamnya tak bernama, itulah sebab masyarakat menjulukinya Karaeng Maloku bukan nama asli yang sebenarnya. Soal perkampungan Maluku, tentu masuk akal, sebab kala itu kata kakek kami ia beserta pengikutnya dari Maluku menetap di sini” tutur Imam Muis.

Masjid Anshar, saksi bisu perkampungan Maloku

Warisan Arfefak yang tersisa dari perkampungan Maluku ini adalah Mushalah kuno dan Mimbar masjid pemberian Sultan ke-40 Ternate yakni Nasiruddin Shah pada tahun 1822 M atau (1237 Zulkaidah). hal ini dibuktikan oleh simbol angka arab di kaligrafi kuno kayu yang melekat di mimbar masjid pemberian Sultan Ternate itu ujar Imam Muis. “Mimbar masjid dibawa langsung dari Maluku, juga kaligrafinya yang diperbaharui. Sebelum perkampungan ini ada. Mimbar itu dibawa secara terpisah dan disusun di sini. Rangka mimbar yang mulai rapuh itu perbaharui kembali atas permintaan para ulama dengan mengundang Pengrajin meubel dari Jepara dengan dengan cara membaluti rangka aslinya dengan jenis kayu yang lebih kuat lalu dicat dengan warna yang ada hingga kini” tuturnya Imam Muis.

Saudagar Teripang dan arfefak terakhir peninggalan Muslim Maluku

Imam Masjid Muis Daeng Ngilo mengatakan, “Dahulu kala kejatuhan Makassar di tangan VOC di tahun 1667 M, tanah kampung Maluku ini oleh bangsawan pribumi dihibahkan kepada seorang saudagar Teripang kaya bernama Daeng Tompo. Namun Daeng Tompo tidak memugari dan merusak Mushalah serta makam kuno itu. Pada tahun 1826, Daeng Tompo menghibahkan sebagian tanahnya dekat mushala dan pemakaman itu untuk dibangun Masjid. Pembangunan Masjid adalah nazarnya usai putranya bertepatan lahir pasca pembangunan Masjid. Ia namakan anaknya dengan nama Besse Masigi. Masigi sendiri dalam bahasa Ternate atau TIdore berarti Masjid. 

Pasca wafatnya Daeng Tompo, barulah semua tanah di perkampungan Maluku itu dihibahkan kepada pemerintah oleh cucunya Hi. Mansyur Dg. Tompo. "Simbol Kampung Maluku sebenarnya adalah masjid itu sendiri, kami tak lagi memiliki identitas masa lalu kecuali masjid tua itu, masjid itulah yang dapat membuktikan bahwa Kampung Maloku adalah perkampungan Muslim awal di daerah ini yang didirikan oleh para ksatria dan ulama muslim Maluku kala itu” ungkap Imam Muis. Kampung Maloku memang merupakan salah satu jejak kependudukan Maluku di Sulawesi Selatan, bukan hanya itu, Sejarah Sulawesi Selatan Mattulada pun masih menyisakan informasi teka-teki soal pemberian tanah kepada Sultan Ternate Baabullah di Desa Mangalengkana (Somba Opu, Gowa) untuk dijadikan pemukiman kaum muslim di sana di era Raja Gowa Tunijallo. Apakah di sana masih terdapat peninggalan geneologi, maupun jejak arfefak etnis Maluku lainnya ? penulis harap bisa kesana nanti... (Bersambung)

(Tulisan ini akan penulis muat dalam bab buku Jejak Maluku Di Sulawesi Selatan. Pula persembahkan teruntuk Almarhum H. Muis Daeng Ngilo, mantan Imam Masjid Kampung Maloku – Kota Makassar yang berjasa membantu informasi sejarah ini. Beliau telah wafat mendahului kami sehari sesudah tulisan ini disusun, semoga amal ibadahmu diterima di sisi Allah SWT. Terimakasih juga buat sahabat saya Nurkholis Lamaau yang senantiasa menemani petualangan sejarah ini)


Penulis / peneliti : Fatir M.Natsir
Powered by Blogger.