Di Balik Secangkir Kopi Rempah




Kopi Dabe (Kopi Rempah dari Tidore)
Senja beranjak turun. Wangi rempah; cengkih (Syzygium aromaticum), pala (Myristica- fragrans), dan kayu manis berpadu dalam secangkir kopi. Saya teguk sembari menikmati aromah rempah.  

Selasa, 22 November 2016 di selasar Janglaha Rumah Printing milik Budi Janglaha, yang juga menjadi tempat ngopi sambil diskusi. 

Seketika suasana berubah getir. wangi rempah semakin merasuk ke sum-sum otak-menerawang masa lalu ketika Abdullah Dahlan memantik cerita kejuangan orang-orang terdahulu melawan kolonialisme. Kita sadari, dua jenis rempah ini tidak hanya menjadi bagian kecil deretan bumbu dapur. Jauh dari itu, pala dan cengkih telah mewarnai jalan sejarah Nusantara bahkan dunia. Keduanya (cengkih dan pala) menjadi pencetus kolonialisme modern di tahap yang paling awal.

Aromah rempah ini, pada abad ke-16 mendatangkan bangsa  Portugis, Spayol, Inggris, dan Belanda ke Nusantara. Christophel Columbus bahkan terdorong menjelajahi separuh dunia untuk berburu rempah hingga akhirnya tersasar ke benua Amerika yang dikiranya Hindia tempat asal bumbu (el picante). 

Hingga abad pertengahan, cengkih dan pala menjadi rempah yang paling diburu karena harganya lebih tinggi dibandingkan emas. Cengkih dan pala saat itu digunakan sebagai penyedap aneka masakan, wewangian, kosmetik, obat-obatan berbagai jenis penyakit, hingga ramuan perangsang birahi. (Jack Turner, Sejarah Rempah).

Bangsa  Portugis, Spayol, Inggris, dan Belanda saling berebut ingin menguasai jalur rempah. Monopoli perdagangan memuncak. Wangi rempah pun berbuah petaka di kepulauan rempah Maluku ( Ternate, Tidore, Moti, dan Bacan). Perebutan penguasaan ini karena rempah-rempah saat itu menjadi komoditi penting dalam pasar internasional.

Kolonial tidak hanya merampas sumber daya alam di negeri rempah, namun lebih dari itu telah menguasai cara berpikir kita dengan “mengaburkan sejarah” bahkan membangun mitos-mitos di tengah kehidupan orang-orang Maluku. Riwayat kelahiran kerajaan-kerajaan di Maluku tidak terlepas dari mitos yang dibangun mirip dengan legenda yang ada di Pulau Jawa seperti legenda Jaka Tarub di Jawa Timur. 

Saat ini, tak sedikit dari kita yang memahami nama Maluku hanya sebatas wilayah administratif; Maluku itu Ambon. Padahal, dalam buku Kepulauan Rempah-rempah yang ditulis M Adnan Amal menyebutkan, asal-muasal nama Maluku ketika peradaban China, dalam hikayat Dinasti Tang (618-906),  Kawasan ini bernama “Mi-li-ki” yang diperkirakan sebagai sebutan untuk Maluku. Penulis China dari zaman Dinasti Tang yang menyebutnya sebagai “Mi-li-ku”. Lalu, pada masa kemudian, barulah diketahui bahwa yang dimaksud dengan Mi-li-ku adalah gugusan pulau-pulau Ternate, Tidore, Makian, Bacan, dan Moti.

Tentu, dalam sejarah panjang Moloku Kie Raha tidak terlepas dari kisah heroik perlawanan rakyat terhadap kolonial bahkan sejarah miris bagaimana kita diadu domba oleh penjajah.

Beberapa sumber mengemukakan peradaban di negeri rempah ini lebih jauh lagi. Hendry N. Ridley (1912) mengemukakan bahwa, cengkih sudah ditemukan bangsa China sejak 220 sebelum Masehi. Ia pun beragumen bahwa bangsa China yang pertama kali menemukan cengkih di kepulauan Maluku. Jejak cengkeh juga sudah ada jauh sebelum abad pertama Masehi. Hal ini dapat dibaca pada catatan magnum opus-nya Herodotus, The Histories.

Dalam dokumen-dokumen Portugis dan Spanyol, menyebut Maluku sebagai Negeri Asal rempah yang dinamakan “Batu China de Moro” sebagai penanda kepulauan milik orang China.

Sejarah panjang dari berbagai sumber yang ada pun mengajak kita memahami Ternate tidak hanya pada batas administrasi, pulau yang kelilingnya hanya 42 kilometer dan laut sebagai pembatas. Lebih dari itu, kita harus memahami sejarah panjang. Bahkan, hubungan antara pulau-pulau yang ada. ABD Rahman Hamid dalam bukunya Sejarah Maritim Indonesia mengatakan, laut Maluku yang berhadapan dengan kepulauan Philipina serta dekat dengan Mindanau dan Kepulauan Sulu, menghubungkan beberapa pulau rempah-rempah seperti Banda, Ambon, Seram, Ternate, dan Tidore.


Mengenal Ternate, Mozaik Kota Pusaka
Masih dengan secangkir kopi. Kali ini, tepatnya di Garasi Genta, 17:10 – 17:30 WIT. Minggu 20 November 2016. Sambil menikmati kopi, saya berbincang dengan Bang Sof, sapaan M Sofyan Daud, penulis buku “Ternate, Mozaik Kota Pusaka”. Alhasil, saya mengenal Ternate langsung dari penulis buku tentang Ternate.

Adnan Amal (2010: 53) menulis, pada 1250 terjadi eksodus besar-besaran orang-orang Halmahera—di bawah kerajaan Jailolo- ke beberapa pulau di bagian barat, pulau tersebut seperti pulau Ternate, Tidore, Moti dan, Makian.

Di Ternate pun lahir komunitas yang disebut Adnan Amal sebagai komunitas tertua yang berkedudukan di Tobona yang dikepalai seorang Momole bernama Guna. Peristiwa ini ditandai sebagai pra kolano (raja). Seiring waktu, para imigran dari Halmahera bertambah dan membangun pemukiman di Foramadiahi sekitar tahun  1254 kemudian dipimpin  Mole Matiti lalu terbentuk pula pemukiman ke tiga yakni Sampala yang dikepalai Momole Ciko. Hingga pada 1257 terbentuklah kerajaan yang ditandai dengan pengangkatan Kolano (Raja) Ternate.

Periode Momole ini, menurut M. Saleh Putuhena, “baru merupakan kesatuan budaya, bukan merupakan kesatuan politik”. Ternate sebagai kesatuan politik, terbentuk pada periode kolano, ketika empat klan telah terintegrasi ke dalam suatu pemerintahan yang baik. (Sofyan Daud. 2012: 13).

Di sisi lain, dalam perbincangan saya dengan bang Sofyan Daud, ia mengatakan, banyak sumber yang mengungkapkan tentang Ternate. Pada 1227 eksodus masyarakat dari Jailolo ke Ternate. Separuh sumber bahkan menyebutkan, eksodus  dari kerajaan Loloda.

Sofyan mengatakan, banyak orang menelusuri Sejarah Ternate merujuk pada Naidah, seorang dari Klan Jiko (1859-1864) yang menjabat sebagai Hukum Soasio. Naidah menulis tentang “Hikayat Ternate”. Dalam bahasa Ternate dengan terjemahan bahasa Melayu kemudian diterjemahkan ke Bahasa Belanda yang merujuk pada terjemahan Melayu. Catatan Naidah bahkan diterjemahkan oleh P Van der Crab, Residen Ternate (1863-1864). Terjemahan Crab itu diterbitkan pada 1878 dalam “Bridragen tot de Taal, Land en Volkenkunde van Nederlandsch Indie (BKI)”. Menurut Dr. Chris van Fraasen yang pernah meneliti naskah ini di Ternate dengan bantuan Abdul Habib Jiko, terjemahan yang ada banyak menyimpang dari naskah aslinya.

Dalam Buku Ternate Mozaik Kota Pusaka, Sofyan mengutip; Sejarah Maluku sebelum kedatangan Portugis adalah sejarah yang ‘diterka’ atau rekaan saja, karena memang tidak ada catatan sejarah dan peninggalan-peninggalan arkeologis penting” (Alwi,2005;294). Kemudian istilah Maluku sendiri pun memiliki pengertian yang berbeda-beda dari masa ke masa.
 “Jangan mengenal Ternate sekena saja pada masa terbentuknya kerajaan. Jika merujuk pada sejarah cengkih, peradaban kita jauh lebih tua, ribuan tahun sebelum Masehi. ” saran Bang Sof, sapaan akrap Sofyan Daud.

Tanggung jawab Sejarawan
Merujuk pada beberapa sumber yang ada, sejarah Ternate begitu singkat hanya pada era 1200-an, dengan hanya melacak pada peristiwa eksodus orang-orang Halmahera. Bagi sofyan Daud, jika dilihat dari sejarah cengkih, maka, kehidupan dan penduduk yang ada di Pulau Ternate  lebih jauh dari tahun 1200-an.
“Kiranya, hal ini menjadi tanggungjawab dalam hal melacak lebih jauh tentang sejarah Ternate. Pertanyan mendasarnya adalah, siapa yang membawa cengkih sejauh itu pada era sebelum masehi?” ujar Sofyan.

Kesepakaatan Hari Jadi Kota Ternate
Peristiwa penting 13 tahun lalu. Tepatnya di sebuah ruang Kantor Walikota Ternate, 8 Juli 2003. Ruang itu penuh sesak dihadiri kurang lebih 148 Orang, dari tokoh masyarakat, tokoh adat, instansi pemerintah, akademisi, rekan pers, LSM, dan mahasiswa. Di antara Mereka adalah orang-orang yang tegabung dalam Tim Perumus Hari Lahir Kota Ternate yang dibentuk berdasarkan Keputusan Walikota Ternate nomor 105/8/Kota Ternate. 

Saat itu, Prof. DR. RZ. Leirissa selaku Ketua Tim Perumus Hari Lahir Kota Ternate, dan tim perumus lainnya yakni; Prof. DR. A.B. Lapian, DR. M.S. Putuhena, MA, Drs. H. Mudaffar Sjah, M Adnan Amal, SH, Drs. H. J. Abdulrahman, Drs. Rivai Umar, M.Si, Drs. J.W. Siokona, Dra. Irza A. K. Djafar, DR. Gufran Ibrahim, MS, Herry Nachrawi, Drs. B. Marassabessy, M.Pd,  Dra. R. A. LatIef, M. Hum, H. Hamid Kotambunan, Drs. Ishak Jamaluddin, dan Rinto. Taib, S.Sos.

Perlu diketahui, penetapan Hari Lahir Kota Ternate, tanggal dan tahun merujuk pada peristiwa yang berbeda. Penetapan tanggal 29 Desember diambil dari peristiwa Sultan Babullah mengusir Portugis dari tanah Maluku di Benteng Gamlamo (Sekarang Benteng Kastela, nama lain dari Nostra Senora del Rosario). Perlawanan Babullah ini setelah ayahnya, Sultan Khairun terbunuh ditangan  penjajah, di Benteng Kastela pada tanggal 15 Februari 1570. Perlu diingat, dalam peristiwa perlawanan Babullah mengusir Portugis sempat menunda kolonialisme di Nusantara selama 100 tahun.  


HJT 766 dan Semangat Kebudayaan

Logo HJT 766 dan Pers Peliputan Kota
Hari Jadi Ternate (HTJ) 766 tahun 2016 ini mengambil spirit kebudayaan. Panitia HJT 766 mengemasnya dengan tema bertajuk “Ternate Kota Pusaka dan Wisata. Menghargai Masa Lalu, Membangun Masa Depan yang Mendunia”. Semangat ini pun dijadikan sebagai visi misi Kota Ternate dan menjadikan tema utama dala HJT di tahun-tahun yang akan datang.

Kiranya, banyak hal positif dalam HTJ 766. Kenapa tidak, selain dengan semangat kebudayaan, pihak pemerintah pun membangun sinergi dengan Kota Tidore Kepualan dan Halmahera Barat. Hal ini bahkan telah disepakati dalam Rencana Pembangnan Jangakah Menengah Daerah.

Walikota Ternate Burhan Abdurahman dalam konferensi Pers saat Pembukaan HJT 766 di Benteng Oranje mengatakan, dalam kesepakatan segi tiga emas tersebut, mereka (Ternate, Tidore, dan Halbar) saling mendukung di bidang Pariwisata, Pertanian, dan Perikanan.
“Selama ini, hasil pertanian diambil dari Manado dan Bitung. Target kita dalam beberapa tahun ke depan Maluku Utara, khususnya di tiga daerah ini memiliki ketahanan pangan yang kuat. kita akan bekerja keras hingga hasil produk pertanian yang ada di sini di komsumsi di dalam daerah dan tidak ketergantuan lagi dari luar daerah,” Ungkap Walikota Ternate Burhan Abdurahman.

Tak hanya itu, dalam momen HJT 766 ini, tiga daerah tersebut pun saling mendukung dalam rangkayan acara pelaksanaan HJT 766.


Mama Piara dan Modal Sosial

“Ayhs, pulang makan dolo [dulu], abis [setelah itu] baru kerja” kata ibu piara saya. Ibu Piara yang saya temui di Ternate, Pulau Hiri, Pulau Moti, dan beberapa ibu piara di daratan Halmahera. Kenapa membekas? Karena tidak hanya ucap namun wujud kata berupa perlakuan seorang ibu piara terhadap saya.

Perlakuan seorang ibu piara ini pun membekas di ingatan seorang TNI Sipur asal Jawa yang saya temui di Asmat, Papua. Saya lupa namanya. Sebelumnya, Ia berkenalan dengan saya, dan saya mengatakan bahwa saya dari Maluku Utara. Seketika itu, wajah garangnya berubah. Ia kaget bahkan haru. Matanya basah. “Ade, saya ingat mama piara di sana, di Galela. Mama piara itu selalu jaga saya punya waktu makan,” katanya, mengingat. Ia bahkan meniru dialek Maluku Utara.

“Mama piara, bahkan orang di dalam rumah, tidak makan kalau saya belum pulang makan meskipun makanan sudah tersaji di meja,” air matanya pun menetes.

Atas peristiwa itu, saya pun mengenang masa kecil saya, kehudupan sosial di kampung, di Tobelo. Saat itu, tahun 80-90-an, di kampung saya, orang-rang hidup rukun dengan perbedaan agama bahkan etnis. Setiap hari besar keagamaan seperti Idul Fitri dan Idul Adah, saudara, tetangga yang beragama Kristen berdatangan, menikmati hidangan perayaan. Begitu pula sebaliknya, pada hari raya Natal, kami selalu berkunjung ke tetangga yang beragama Kristen. Kami pun saling menjaga makanan. Tetangga kami yang Kristen, menyimpan alat-alat dapur bahkan piring dan gelas untuk kita yang Muslim gunakan.

Pintu rumah kami tidak pernah dikunci, meskipun kami tidak ada di rumah. Tetangga dapat leluasa masuk nonton tv dan makan seadanya. Tentu ada semacam sistem nilai di dalam rumah. Misalnya, pintu kamar orangtua saya, tidak pernah dibuka bahkan disentuh oleh tetangga. 

Bagi kami, tamu yang masuk ke rumah hingga mampir ke dapur untuk makan, tamu itu telah menjadi bagian dari keluarga kami.

Tentu dinamika dan sistem yang terbangun tidak terlebas dari aspek kebudayan kita yang ada di Maluku Utara. ada beberapa pesan, misalnya “Mari Moi Ngone Futur” yang artinya Mari Kita bersatu. 
Selain itu, sistem nilai yang masih hidup di tengah masyarakat adalah Babari. Babari ini bentunya seperti gotongrayong. Orang-orang di Maluku Utara saling membantu dalam berbagai hal, misalnya, ada warga yang kesulitan membangun rumah, warga lain berbondong-bondong membantu bahkan menyediakan bahan-bahan bangunan.

Di Ternate, ada sistem nilai yang berupa sastra lisan. Syair dari sastra ini menjadi tuntunan tiap individu berlaku baik terhadap sesama untuk kebaikan bersama. Sastra lisan itu disebut Dalil Moro. Ada juga yang disebut Dalil Tifa.

Abdulrahman, Abdul Hamid Hasan (2001;93) menulis, Dalil Moro adalah bentuk sastra lama yang dalam peribahasanya mengungkapkan perumpamaan berbentuk dalil sebagai contoh untuk ditiru atau dihayati. 
Singkatnya, di Maluku Utara khususnya Kota Ternate, sistem nilai ini masih hidup di tengah kehidupan masyarakat. 

Merujuk pada sejarah, Menurut Sofyan Daud, ketika Raja Ternate ke-7 Sida Arif Malamo berinisiatif mengadakan pertemuan raja-raja  dalam persekutuan Moti (Motir Verbond). Hal tersebut dilakukan karena saat itu, cengkih dan pala menjadi rebutan dalam monopoli perdagangan. 

“Persekutuan itu, yang pertama adalah untuk menjaga daerah dari ancaman perompak, kedua, untuk menjaga stabilitas hubungan antar kerajaan,” kata Sofyan.

Kondisi sosial dan kemajemukan kian memuncak saat itu. Menurut Sofyan, hal itu harus diimbangi dengan sistem nilai yang dibangun secara bersama.

Saat ini, perubahan jaman semakin cepat bahkan berdampak pada kehidupan sosial budaya yang ada di Kota Ternate. Menurut Sofyan, semangat Moti Verbond perlu dimplementasi lewat kebijakan pemerintahan.

“Sudah seharusnya, kita kembali pada nilai falsafah yang telah ada sebelumnya. Hal itu menjadi modal sosial membangun masa depan,”ujar Sofyan.



Penutup; Menikmati Ternate
Ah, kopi sudah habis saya teguk. Nikmatnya masih terasa, sekaligus rasa pahitnya masih membekas. Seperti sejarah kita. Ya seperti sejarah kita.

Demikian catatan pendek ini saya tulis. Namun tak dipungkiri, catatan ini masih jauh dari layak sebab, saya sendiri bukan sejarawan. Saya memposisikan diri sebagai orang muda daerah yang selalu ingin tetap kritis mempelajari sejarah daerah sendiri. Saya pun memposisikan diri sebagai bagian dari “bangsa terjajah” yang mencoba belajar-menelusuri kembali jejak-jejak kita di masa silam.

Tentu, masih banyak sumber-sumber lain tentang Sejarah Maluku yang jauh lebih tua. Sejarah itu masih dituturkan para tetua bahkan akademisi. Mislanya soal penamaan Maluku, ada yang menyebutnya Jazirah Almulk. Beberapa kawan dari pulau Jawa yang melancong ke Ternate pun bercerita bahwa, peradaban di Kota Ternate jauh lebih tua, bahkan (konon) di Jaman Nabi Nuh yang bahteranya terdapat Cengkih.

Oh iya, bagi saya, tak elok catatan ini jika tidak dimuat beberapa dokumentasi berupa foto. Olehnya itu, saya mencoba menjadikan catatan pendek ini lebih bervariasi; menjadikannya “panduan pemula” wisata sejarah, bagi saya bahkan bagi pengunjung “pemula” yang ingin ke Ternate. 

Pastinya, tidak tertutup kemungkinan, mereka yang sudah berkali-kali datang ke Ternate belum tentu “menikmati Ternate” secara utuh, apalagi orang yang belum pernah mengunjungi Ternate. Pasalnya, ketidaktahuan mengenai hal-hal “kecil” di Ternate kerap menyulitkan orang-orang yang baru pertama kali.


Makam Sultan Babullah

Makam Sultan Babullah bereda di Bukit Faramadiahi. Kurang lebih berjarak 10 kilometer kearah selatan dari Pusat Kota Ternate. Sultan Babullah adalah anak dari Sultan Khairun. Sultan Babullah berhasil mengusir Portugis yang bercokol di Benteng Kastela. Perlawanannya berhasil menunda kolonialisme di Nusantara selama 100 tahun. Tak sedikit orang-orang dari luar yang datang ke Ternate pun melakukan jiarah di Makam Sultan Babullah.

Benteng Kastela

Kondisi Benteng Kastela
Benteng Kastela, begitu masyarakat lokal menyebut salah satu situs benteng terbesar dalam sejarah kolinialisme di Asia Tenggara. Benteng yang dibangun oleh Portugis ini terletak di selatan Kota Ternate. Kata Kastela sendiri merujuk pada kata Castel atau Castillo yang artinya istana atau benteng.

Pada tahun 1521, ketika Antonio de Brito menjadi gubernur Portugis di Maluku, Ia kemudian ditugaskan membangun benteng ini pertama kali. Antonio de Brito pun menghadap Nyai Cili Boki Raja Nukila, yang saat itu menjadi Waliraja, atas anaknya yang masih belia, Jalaludin Diyal yang dikenal dengan nama Sultan Deyalo.

Setelah Bayanullah wafat (Suami Boki Raja Nukila), Brito berhasil membujuk Boki Raja Nukila untuk membangun benteng pada 24 Juli 1522 di wilayah yang bernama Sampalu atau Malayu. Pada Tahun 1540, seluruh pembangunan benteng selesai dibangun dan diberinama Santo Pedro, kemudian dikenal dengan nama Nostra Senora del Rosario, atau Gadis Berkalung Bunga.

Rusli Jalil,  dalam  weblog pribadinya berjudul “Castellia Nostra Senora del Rosario” menulis  Soal nama ini ada dua versi cerita. Pertama, karena keindahan benteng yang lebih menyerupai benteng kota ini, hingga penguasa Portugis menamai demikian. Versi kedua menyebutkan, nama ini diberikan karena di situ juga bermukim seorang gadis yang senang sekali berkalung bunga.

 

Benteng Tolluco

Benteng Tolluco

Benteng Tolluco berada di Kelurahan Dufa-dufa, Utara Kota Ternate. Berjarak kurang lebih 3,5 kilometer dari Badara Sultan Babullah. Awalmulanya, benteng ini didirikan oleh Portugis oleh Francisco Serao pada 1512. Pada 1610, benteng ini  kemudian direnovasi oleh Pieter Boath yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Belanda di Ternate. Benteng itu pun dikenal dengan nama Benteeng Holandia atau Santo Lucas.

Dalam Buku Ternate Mozaik Kota Pusaka yang ditulis M Sofyan Daud; Di sisi dinding benteng tersebut terdapat prasasti tulisan “Die Hirby Staet. En Gade Slaet, Muyr en wan, seisen in, is spot_Pieter Both” prasasti itu telah dicopot saat pemugaran benteng pada tahun 1996. Pada Tahun 1661 Pemerintah tinggi Hindia Belanda member izin kepada Sultan Mandarsyah menempati Benteng ini beserta 160 orang pasukannya (Andi Atjo, 2008;51).

Benteng Oranje
Benteng Oranje
Keberadaan benteng Oranje di tepat di Pusat Kota Ternate. Dibangun oleh Kornelis Matelief de Jonge. Awalnya, benteng ini disebut Benteng Melayu. 

Sofyan Daud dalam buku Ternate Mozaik Kota Pusaka mengutip; Arnyta Djafaar (2007: 127-131)  menulis, Fort Oranje ini semula berasal dari bekas sebuah benteng tua yang didirikan oleh orang-orang Melayu yang bermukim di sekitarnya dan diberi nama Benteng Melayu. Beberapa sumber menyebutkan kawasan ini dipilih selain karena letaknya stategis juga karena lebih mudah berhubungan dengan Halmahera, tempat dimana bisa memperloleh suplai makanan secara cepat dan aman. 

Benteng Oranje saat itu menjadi markas besar VOC Hindia Belanda sebelum Gubernur Jenderal Jan Pieteszoon Coen memindahkan ke Batavia pada 1619. 

Benteng Kalamata
Benteng Kalamata | sumber foto; liliskhus.niati.com
Benteng Kalamata terletak di Kelurahan Kayu Merah, Ternate Selatan. Jaraknya kurang lebih 3-4 kilometer dari pusat Kota Ternate. Beberapa sumber menyebutkan, benteng ini dibangun oleh Pelanda pada tahun 1609 setelah itu, benteng diduduki oleh Spayol.
Sofyan Daud (2012:55) menulis, Nama Kalumata atau Kalamata, diambil dari nama seorang Pangeran Ternate yang wafat di Makassar pada Maret 1676.

Klenteng Kong Hu Cu
Klenteng Kong Hu Cu
Klenteng Kong Hu Cu berdiri kokoh tepat di lingkungan kompleks sekolah China. Maasyrakat lokal menyebut Klentengnya Tapikong. Asal-muasal penyebutan Tapikong dari bahasa China yakni Toa Pe Kong yang artinya istana besar. 

Keberadaan Klenteng pun memiliki sejarah panjang. Pada abad ke-17. Pada masa itu, klenteng ini bernama Thian Ho Kiong yang artinya permaisuri dari Tuhan yang Agung. Dibangun untuk menghormati Dewa Laut. 

Kini, konstruk bangunan Kelnteng ini memiliki dua lantai. Di lantai atas sebagai ruang untuk menghormati Dewi Kwan Ing.  Untuk menghormati Nabi Kong Hu Cu berada di ruang belakang, ruang untuk menghomati Dewa Bumi di sisi selatan,  ruang menghormati dewa laut, di ruang tengah, dan ruang untuk menghormati panglima perang Kuan Kong berada di sisi utara.

Penulis : Faris Bobero

Powered by Blogger.