Bendera Setengah Tiang untuk Jou Barakati



Surat kedua tentang Nuku World Festival

Aroma kopi dabe masih terasa di lidah, suasana Kadato Kie Kesultanan Tidore pagi itu memperkuat cita rasa rempah khas Moloku Kie Raha.  Kalimat  Tagi isa toma banga dadi ega se soho ma ngam, ho toma ngolo dadi soma se gurango ma ngam1  begitu kuat terpasung pada ingatan. Sampai saat ini masih kuat, bahkan mungkin sampai hayat di kandung badan.

Sebuah Sumpah yang menggugah hati, merasuk jiwa, membenturkan fikiran. Bahwa, apapun yang berjalan tentu harus mengarah kepada kebaikan. Berjalan pada hukum-hukum Allah. Mengarah kepada yang menciptakan segala suasana dan keadaan, Allah Subhana Wataala Jou Madihutu.

Ya, itulah sedikit cerita tentang Pengukuhan Pengurus Besar Garda (Generasi Muda) Nuku, saat tanggal di langit dan bumi bergandengtangan, 12 November 2016 Miladiyah / 12 Safar 1438 Hijriyah.

Dua hari berselang, 14 November 2016 Miladiyah / 14 Safar 1438 Hijriah. Nuku World Festival disajikan dalam empat rangkaian “hidangan” di atas meja sejarah Moloku Kie Raha. Pelantikan Badan Pengurus Garda Nuku sebagai menu pembuka, Penandatanganan Agreement Persekutuan Moloku Kie Raha, Testimoni Kie Raha, dan Taji Besi (Debus) Massal Kie Raha sebagai menu penutup.

Terdengar kabar dari pulau tempat dodomii 2) di tanam. Pejabat pemerintah geram, tersinggung dengan penurunan bendera setengah tiang bahkan mempertanyakan kenapa pelaksanaan Haul Sultan Nuku dilakukan di Ternate, bukan di Tidore, yang konon disampaikan pada apel pagi.

Hari itu, dua kejadian yang menyayat hati, pertama adalah seperti pada surat yang pertama yang Beta tulis, dan yang kedua, adalah statement seorang pejabat pemerintahan yang bagi Beta tak pantas dipertontonkan. Tapi sudahlah, anggaplah riak-riak ringan. Dan tak ada dendam sedikitpun, ini adalah latihan ringan buat Beta, buat kita semua.

14 November 2016, bendera setengah tiang telah berkibar, sebagai duka cita mendalam kepada sosok pejuang negeri Kie Raha. Setelah 211 Tahun tidak pernah dikibarkan setengah tiang sebagai bentuk kedukaan.
14 November 2016, darah-darah mengalir pada tubuh anak Kie Raha lewat bunyi rabana dengan lantunan doa-doa sebagai kado kecil buat Sultan Saedul Jehad Muhammad El Mabust Amiruddin Syah Kaicil Paparangan, yang sering dipanggil dengan NUKU.

Penulis : Budi Janglaha, Sekretaris Umum PB Garda Nuku

1) Pergi ke hutan menjadi makanan ular dan babi, ke laut menjadi santapan buaya dan hiu
2) Ari-ari

Powered by Blogger.