Asoka dan ICMI Malut

Soerat keempat Untuk ICMI. 
Beta tuliskan dipojok timur Dhuafa Center Ternate disela-sela Pelantikan Pegurus Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Provinsi Maluku Utara. Rabu, 30 November 2016. Dan satu kata membuat beta tertarik yaitu Cendikiawan.  Yah,  kata itu,  Cendikiawan.

Sebelumnya,  Yaumul Milad Pak Wali, Haji Bur,  Barakallah fii Umurik. Bahagia,  Beejaya dan sukses di dunia yang sementara ini dan akhirat yang selamanya.

Cendekiawan atau intelektual ialah orang yang menggunakan kecerdasannya untuk bekerja, belajar, membayangkan, mengagas, atau menyoal dan menjawab persoalan tentang berbagai gagasan. Kata cendekiawan berasal dari Chanakya, seorang politikus dalam pemeritahan Chandragupta dari Kekaisaran Maurya. Demikian hasil "menjala" Cendekiawan di Wikipedia bahasa Indonesia.
Ah, Seketika itu juga teringat ASOKA. Sinema elektronik yang sering diputar disalah satu televisi swasta. Asoka dan Shushima dibimbing oleh Chanakya yang berbeda.  Chanakya shusima lebih seorang politikus yang rakus akan kekuasaan, ditambah dengan karakter ibu shushima yang cenderung menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan,  maka terciptalah Shusima yang bengis.
Berbeda dengan shusima,  Asoka yang dibesarkan dengan kelembutan, ketegasan serta kasih sayang seorang ibu Dharma atau Sangamitta,  ditambah dengan Chanakya yang berwawasan luas,  maka lahirlah Asoka yang menguasai hampir sebagian besar India waktu itu. Kurang kebih seperti itu sepengetahuan beta,  dari beberapa kali menontonnya.
Kembali ke ICMI,  berjuta asa dan harapan dari masyarakat,  ICMI Malut dibawah nahkoda baru H. Burhan Abdurahman,  SH, MM mampu memberikan ide-ide,  gagasan-gagasan yang luas,  memberikan pencerahan,  dan mendorong terciptanya generasi "Ashoka".  Generasi yang tanpa duka.  Dalam Bahasa Sanskerta a – tanpa, soka – duka). Generasi yang tidak sembunyi (Soka - bahasa Tidore). 
 
Powered by Blogger.